obrolannews | Surakarta : Tembok Rumah Tahanan Negara (Rutan) Surakarta boleh membatasi gerak fisik warga binaan. Namun, tembok itu tidak menjadi batas bagi kreativitas, cita-cita dan harapan untuk memperbaiki diri.
Pesan itulah yang terasa kuat dalam program Bincang Tipis-Tipis Erman Tale Daulay bersama Bhanad Shofa Kurniawan, Karutan Surakarta, Jawa Tengah, di kanal Tale Trias Info.
Di balik tembok Rutan Surakarta, pembinaan tidak semata-mata diarahkan pada rutinitas, tetapi juga menghadirkan sentuhan budaya lokal sebagai bagian dari proses pemulihan warga binaan.
Salahsatu penjelmaan semangat tersebut terlihat dari penamaan blok hunian perempuan sebagai Blok Aruna.
Menurut Karutan Surakarta, pemilihan nama Aruna tidak sekadar pemberian nama sebuah blok. Aruna dimaknai sebagai warna merah yang melambangkan rona, harapan, dan semangat untuk menjadi pribadi yang lebih baik.
“Kenapa Blok Aruna? Karena kami mencoba menjelmakan budaya dengan sentuhan kearifan lokal seperti yang ada di Kota Surakarta,” jelas Bhanad.
Bagi Bhanad, budaya bukan hanya sesuatu yang dipertontonkan dalam panggung kesenian. Budaya juga dapat menjadi nafas dalam memberikan pelayanan, pembinaan dan perawatan kepada warga binaan.
Karena itu, semangat berbudaya di Rutan Surakarta diterjemahkan melalui nilai-nilai yang menekankan integritas, akhlak, kedinamisan dan sisi humanis dalam proses pembinaan.
“Pada hakikatnya pembinaan itu adalah pemulihan,” katanya.

Pemulihan, menurut dia, berarti memberikan ruang kepada warga binaan untuk mengenali kembali dirinya, mengembangkan potensi, membangun energi positif dan mempersiapkan diri menghadapi kehidupan setelah menyelesaikan masa pidana.
Di sinilah seni dan budaya mendapat ruang.
Salah satunya melalui kegiatan menari. Bagi warga binaan perempuan di Blok Aruna, tari tidak sekadar gerakan tubuh mengikuti irama. Aktivitas tersebut dipandang sebagai bagian dari terapi diri sekaligus sarana membangun kembali rasa percaya diri, keteraturan berpikir dan kemampuan mengekspresikan diri.
Dalam perspektif budaya Jawa, gerak tari mengandung filosofi tentang keselarasan. Gerakan tangan, tubuh dan langkah bukan sekadar estetika, tetapi dapat menjadi media untuk mengolah rasa, cipta dan karsa.
“Menari itu salah satu terapi. Bagaimana keluwesan ini membentuk alur berpikir dan alur rasa ciptanya dia untuk menjadi pribadi yang selaras dengan kehidupannya,” tutur Bhanad.
Pendekatan tersebut memperlihatkan bahwa pembinaan di Rutan Surakarta berusaha melihat warga binaan bukan semata-mata dari kesalahan masa lalu, melainkan dari potensi yang masih dapat dikembangkan.
Ada manusia yang harus dipulihkan. Ada kreativitas yang perlu diberi ruang. Ada cita-cita yang harus tetap hidup.
Karena itu, meskipun kehidupan warga binaan berada di balik tembok Rutan, ruang untuk berkarya tidak ikut terkunci.
“Yang dibatasi adalah geraknya. Tetapi cipta, rasa dan karsanya tidak mungkin kita batasi dengan tembok. Apapun itu bisa keluar,” tegas Karutan.
Kalimat tersebut menjadi gambaran kuat tentang filosofi pembinaan yang ingin dibangun di Rutan Surakarta.
Tembok memang memiliki fungsi untuk membatasi ruang gerak secara fisik. Tetapi pembinaan justru harus membuka ruang seluas-luasnya bagi pikiran, kreativitas dan harapan.
Dari ruang-ruang pembinaan itulah warga binaan diajak menatap masa depan dengan perspektif berbeda: bahwa masa lalu bukan akhir dari perjalanan hidup.
Nafas budaya Surakarta kemudian menjadi salahsatu cara untuk menghadirkan suasana pembinaan yang lebih manusiawi. Budaya menjadi jembatan untuk menumbuhkan kembali rasa percaya diri, kedisiplinan, kreativitas dan kesadaran bahwa setiap orang masih memiliki kesempatan untuk berubah menjadi lebih baik.
Dengan demikian, Blok Aruna bukan hanya nama sebuah blok perempuan di Rutan Surakarta.
Ia menjadi simbol tentang harapan.
Merah merona sebagai perlambang semangat untuk bangkit. Seni sebagai ruang ekspresi. Budaya sebagai energi pembinaan. Dan tembok Rutan sebagai batas fisik yang tidak mampu membelenggu cipta, rasa, karsa dan cita-cita manusia.

