Oleh: Bagindo Umar Lubis, Kader HMI Cabang Medan
MEDAN — Peran kader Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) dalam pembangunan bangsa kembali menjadi sorotan di tengah era disrupsi dan polarisasi sosial yang kian kompleks. Sebagai organisasi kader, HMI tidak hanya dituntut aktif dalam diskursus intelektual, tetapi juga menghadirkan kontribusi nyata bagi kemajuan Indonesia.
Sejalan dengan cita-cita pendiri HMI, Lafran Pane, setiap kader memiliki tanggung jawab moral untuk mendorong kesejahteraan masyarakat. Nilai dasar perjuangan HMI yang dikenal dengan “misi ganda”—keislaman dan keindonesiaan—menjadi fondasi penting dalam membentuk karakter kader yang utuh dan berintegritas.
Namun, tantangan zaman menuntut lebih dari sekadar kemampuan berdiskusi atau berpidato. Di era disrupsi saat ini, kepemimpinan kader HMI harus bertransformasi menjadi kepemimpinan yang mampu mengorkestrasi berbagai kepentingan menjadi satu arah pembangunan yang berpihak pada rakyat.
Kepemimpinan tidak lagi cukup diukur dari retorika di atas podium. Lebih dari itu, kader HMI dituntut mampu menyatukan visi keislaman dan keindonesiaan dalam aksi nyata yang berdampak luas.
Pembangunan yang dilakukan pun tidak boleh berorientasi pada kepentingan pribadi atau popularitas semata, melainkan harus berlandaskan kemaslahatan masyarakat secara berkelanjutan.
Dalam konteks ini, kader HMI diharapkan mampu memetakan arah peradaban 10 hingga 30 tahun ke depan. Perencanaan pembangunan harus bersifat jangka panjang, tidak terbatas pada kepentingan satu periode, tetapi berorientasi pada masa depan bangsa.
Gagasan Indonesia Emas 2045 menjadi salah satu target besar yang membutuhkan kesiapan sejak dini. Untuk mencapainya, diperlukan kesadaran kolektif, dimulai dari individu hingga kelompok. Kader HMI sebagai bagian dari generasi muda harus mampu menetapkan target jangka pendek, menengah, hingga panjang sebagai langkah konkret menuju cita-cita tersebut.
Lebih jauh, pembangunan Indonesia tidak hanya soal infrastruktur fisik, tetapi juga membutuhkan pondasi yang kokoh.
Sebuah bangsa tidak akan kuat hanya dengan bangunan megah jika tidak ditopang oleh nilai, karakter, dan sistem yang solid. Oleh karena itu, penguatan pondasi menjadi kunci utama dalam mewujudkan Indonesia yang maju dan berdaya saing.
Dengan demikian, urgensi kepemimpinan orkestrator di tubuh HMI menjadi semakin relevan. Kader tidak hanya dituntut berpikir kritis, tetapi juga mampu bertindak strategis dan kolaboratif demi masa depan Indonesia yang lebih baik. (021)

