obrolannews.id | Padanglawas : Semangat membangkitkan kembali sektor pertanian di Kabupaten Padang Lawas (Palas), Sumatera Utara, menemukan energi baru. Pemuka agama, Majelis Ulama Indonesia (MUI), tokoh adat Dalihan Na Tolu, pemerintah daerah, dan para petani bergandeng tangan untuk mengembalikan kejayaan Palas sebagai salahsatu kawasan pangan di wilayah Tapanuli Bagian Selatan (Tabagsel).
Harapan itu menguat seiring dengan bergulirnya agenda swasembada pangan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto sebagaimana tertuang dalam Asta Cita, khususnya butir kedua yang menekankan pembangunan kemandirian bangsa melalui swasembada pangan.
Tokoh adat Dalihan Na Tolu, Putra Hasibuan, mengatakan masyarakat adat siap mengambil bagian dalam menyukseskan agenda tersebut. Menurutnya, dukungan terhadap sektor pertanian tidak cukup hanya dalam bentuk pernyataan, tetapi harus diwujudkan dengan keterlibatan langsung di lapangan.
“Tokoh adat, ulama, pemerintah, TNI-Polri dan seluruh elemen masyarakat harus bersama-sama turun ke lapangan. Kami siap mengawal dan terlibat langsung,” ujar Putra.
Ia mengingatkan bahwa Palas memiliki sejarah panjang sebagai kawasan pertanian dan pernah menjadi salahsatu lumbung pangan di Tabagsel. Potensi tersebut tidak terlepas dari keberadaan Sungai Barumun yang selama ini menjadi sumber kehidupan bagi masyarakat dan mengairi areal persawahan.
Putra juga mengapresiasi peran MUI Palas yang terus mendorong masyarakat untuk menyukseskan program swasembada pangan.
Menurutnya, dukungan moral dan sosial dari ulama serta tokoh adat menjadi modal penting untuk mengembalikan semangat masyarakat dalam mengolah lahan pertanian.
“Harapan kita, Padang Lawas kembali menjadi sumber pangan untuk wilayah Tabagsel,” katanya.
Petani Menunggu Air Kembali Mengalir
Di tengah semangat tersebut, persoalan mendasar masih dihadapi petani: ketersediaan air untuk sawah.
Tokoh masyarakat Ulu Barumun, Lukman Hakim Hasibuan, mengungkapkan bahwa kerusakan pintu air dan jaringan irigasi telah membuat aktivitas pertanian di sejumlah wilayah Palas mengalami kemunduran.
Ia secara khusus menyoroti pintu air Lubuk Marsonja di Desa Matondang, yang bersumber dari Sungai Barumun. Kerusakan pintu air tersebut berdampak langsung terhadap areal persawahan yang selama ini bergantung pada aliran irigasi.
Menurut Lukman, kawasan yang dahulu mampu menggerakkan aktivitas pertanian masyarakat kini sebagian besar tidak lagi produktif. Dari sekitar 400 hektare areal yang berada di hilir pintu air dan mencakup delapan desa, saat ini hanya sebagian kecil yang masih dibudidayakan.
“Kalau pintu air ini diperbaiki, delapan desa bisa kembali bergairah menanam padi. Kami hidup dari pertanian. Kami berharap pemerintah memperhatikan ini secara serius,” ujarnya.
Lukman menegaskan, petani tidak hanya menunggu bantuan pemerintah. Mereka siap bergotong royong membantu proses perbaikan saluran irigasi sesuai kemampuan masyarakat.
“Petani siap membantu pemerintah dengan tenaga. Yang kami butuhkan adalah air kembali mengalir ke sawah,” katanya.
Menurutnya, persoalan irigasi bukan semata-mata persoalan teknis pertanian, tetapi menyangkut keberlangsungan hidup masyarakat.
“Kalau tidak ada beras, apa yang mau kita makan? Karena itu sumber-sumber air pertanian harus diperhatikan,” tegasnya.
Pemkab Palas Bergerak, Anggaran Provinsi Ditunggu
Gayung bersambut. Pemerintah Kabupaten Padang Lawas menyatakan telah berkomunikasi dengan Pemerintah Provinsi Sumatera Utara terkait upaya menghidupkan kembali infrastruktur pengairan yang menjadi kewenangan provinsi.
Plt. Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Padang Lawas, Darman Hasibuan, mengatakan pemerintah daerah telah menyampaikan aspirasi dan kebutuhan masyarakat kepada pemerintah provinsi.
“Karena ini terkait kewenangan Pemerintah Provinsi Sumatera Utara, kami sudah mengusulkan dan mengomunikasikan kebutuhan masyarakat,” ujarnya.
Menurut Darman, perbaikan sumber air dan jaringan irigasi menjadi kebutuhan mendesak karena menjadi kunci untuk mengembalikan produktivitas pertanian masyarakat.
Ia menyebutkan, pemerintah daerah terus berkoordinasi agar persoalan tersebut dapat ditangani melalui dukungan anggaran pemerintah provinsi.
Pada tahun anggaran 2027 perbaikan infrastruktur pengairan tersebut sudah dapat direalisasikan, sehingga areal persawahan yang selama ini tidak produktif dapat kembali dimanfaatkan petani.
Di sejumlah wilayah Ulu Barumun, masyarakat bahkan telah berinisiatif melakukan normalisasi saluran dan membangun bendungan sementara secara gotong royong untuk mengatasi persoalan air yang telah berlangsung cukup lama.
Langkah tersebut menjadi bukti bahwa masyarakat tidak hanya menuntut pemerintah, tetapi juga siap mengambil bagian dalam menghidupkan kembali pertanian.
Semangat masyarakat Palas tersebut menjadi gambaran bahwa program swasembada pangan membutuhkan dukungan hingga tingkat paling bawah.
Bagi petani, swasembada pangan bukan sekadar target nasional. Ia harus diterjemahkan menjadi air yang mengalir ke sawah, irigasi yang berfungsi, lahan yang kembali produktif, dan petani yang mampu menanam serta memanen secara berkelanjutan.
Karena itu, masyarakat Palas berharap pemerintah pusat memberikan perhatian terhadap persoalan infrastruktur pertanian di daerah, terutama sumber-sumber air dan jaringan irigasi yang menjadi urat nadi produksi pangan.
Kolaborasi antara ulama, MUI, tokoh adat Dalihan Na Tolu, pemerintah daerah dan petani menjadi modal sosial penting untuk mengembalikan Palas sebagai kawasan produksi pangan di Tabagsel.
Pesan masyarakat sederhana: mereka siap bekerja, siap bergotong royong dan siap menyukseskan swasembada pangan. Yang mereka dambakan adalah pemerintah memastikan air kembali mengalir ke sawah-sawah mereka.
Pernyataan dan aspirasi tersebut disampaikan dalam program “Bincang Tipis-Tipis” yang dipandu Erman Tale Daulay dan ditayangkan melalui kanal Tale Trias Info.
Dari tepian Sungai Barumun, Palas, pesan para petani mengarah ke pemerintah jika pemerintah ingin swasembada pangan benar-benar terwujud, hidupkan kembali sumber air dan sawah-sawah yang selama ini menunggu untuk ditanami.
Mereka mengapresiasi obsesi pemerintah yang memiliki visi membangun ketahanan bangsa dengan swasembada pangan.

